Kisah Haru Jurnalis, Senior di Tengah Demo: Mencari Sang Anak yang Melanjutkan ‘Darah Perjuangan’

189 views

Axelerasi.Id — Dalam sebua vidio yang beredar viral di media sosial yang dibagikan oleh akun instagram pribadi “Andi Muhyiddin” seorang jurnalis Republika, Menampakkan Riuh rendah yel-yel mahasiswa kembali menggema di antara gedung-gedung pencakar langit ibu kota.

Gelombang jaket kuning memenuhi jalanan, menyuarakan aspirasi dalam sebuah aksi unjuk rasa damai yang tertib. Di antara kepungan massa dan kilatan kamera jurnalis, terselip sebuah momen humanis yang menyentuh hati.

Seorang jurnalis senior yang tengah bertugas meliput aksi tersebut mendapati dirinya terjebak dalam lorong waktu kenangan. Baginya, pemandangan hari ini bukan sekadar tugas liputan biasa, melainkan sebuah kilas balik emosional yang melempar ingatannya ke 28 tahun silam.

“Unjuk rasa hari ini mengingatkan lagi, 28 tahun silam, gerakan mahasiswa ’98. Saat itu saya ada di tengah kerumunan yang mirip seperti ini. Masih muda, berjaket kuning, dan sedikit berbahaya,” ujarnya

Namun, ada yang berbeda dengan tugasnya kali ini. Di balik lensa kamera dan catatan jurnalistiknya, ia berdiri dengan dua pasang mata: sebagai seorang jurnalis yang harus objektif, dan sebagai seorang bapak yang dipenuhi rasa khawatir.

Di tengah ribuan mahasiswa yang memadati jalan, pandangannya terus menyisir lautan manusia. Ia mencari satu sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Hingga akhirnya, di antara kerumunan mahasiswa berjaket kuning, sepasang matanya terpaku pada satu titik.

“Nah, itu dia. Anak saya juga dengan jaket kuning,” ucapnya

Darah perjuangan sang ayah rupanya mengalir deras pada sang buah hati. Almamater kuning yang dulu ia kenakan untuk menuntut perubahan, kini melekat erat di tubuh anaknya, melanjutkan estafet menyuarakan kebenaran.

Sebagai orang tua yang pernah mengecap kerasnya aspal jalanan demi sebuah perubahan, ia sadar betul bahwa edukasi terbaik tidak selalu datang dari balik meja dosen.

“Dari dulu saya sadar, belajar itu tidak pernah terbatas di ruang kuliah. Kadang menjaga nurani memang harus dengan turun ke jalan,” tuturnya

Ia memandang aksi ini sebagai proses pendewasaan yang wajar di sebuah negara yang masih menjunjung tinggi pilar-pilar demokrasi. Apalagi, aksi yang diikuti buah hatinya berjalan dengan damai dan penuh ketertiban.

Meski mendukung penuh langkah sang anak, naluri seorang ayah tidak bisa berbohong. Rasa khawatir tetap menggelayuti hatinya sepanjang aksi berlangsung.

“Takut anak itu demo? Yang pasti ada rasa khawatir. Namanya juga orang tua. Tapi kami tidak boleh egois. Sebab satu suara seorang demonstran bisa sangat berarti untuk koreksi. Bisa menjadi tanda bahwa masih ada yang peduli,” ungkapnya

Di akhir peliputan, sang jurnalis senior memberikan pesan menyentuh dari kejauhan sembari memperhatikan anaknya yang melempar senyum dan kepalan tangan tanda semangat perjuangan.

“Hati-hati ya Nak, Bapak pantau dari sini” tutupnya

Sebuah potret indah tentang bagaimana idealisme dan nilai-nilai perjuangan tidak pernah mati, melainkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *