Axelerasi.Id — Aspal jalanan ibu kota kembali membara. Di bawah terik matahari yang menyengat, riuh rendah suara klakson bercampur dengan yel-yel perlawanan. Gelombang massa dari berbagai elemen—mulai dari masyarakat sipil yang kelelahan menghadapi hiruk-pikuk ekonomi, para pengemudi ojek online (ojol) yang terhimpit tarif, hingga mahasiswa yang membawa almamater kebanggaan mereka—tumpah ruah ke jalanan.
Mereka membawa satu resonansi yang sama: keresahan yang sudah berada di ubun-ubun.
Kondisi ekonomi, sosial, dan politik tanah air belakangan ini memang sedang bergolak hebat. Masyarakat dipaksa menelan kenyataan pahit melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok.
Ironisnya, di saat isi dompet rakyat semakin menipis, serangkaian kebijakan publik yang digulirkan penguasa justru dinilai kian menjauh dari napas keadilan dan tidak pro-rakyat. Jalanan pun menjadi pilihan terakhir untuk menyambung lidah yang tersumbat.
Di sepanjang rute aksi, pemandangan didominasi oleh bentangan spanduk kain putih berselimut coretan cat semprot. Tulisannya tegas, sarat amarah, dan menuntut keadilan. Bendera-bendera organisasi tak henti berkibar, menantang angin siang yang panas.
Namun, di balik riuhnya kibaran kain-kain tersebut, sebuah pertanyaan besar menyeruak dalam benak : Di mana bendera perjuangan itu?
Publik tentu belum lupa pada entitas gerakan yang di masa lalu begitu ditakuti sekaligus dibenci oleh penguasa. Sebuah bendera perjuangan yang dikenal karena ketajaman intelektualnya, keberaniannya membedah naskah akademik kebijakan, serta kelantangannya dalam mengkritik setiap langkah penguasa yang merugikan rakyat. Kehadirannya dulu selalu menjadi poros yang memberi arah pada kompas perlawanan.
Kini, saat rakyat kecil menjerit di ruang-ruang pasar dan jalanan, eksistensi simbol perjuangan tersebut justru terasa samar.
Absennya taring yang dulu begitu tajam ini memantik spekulasi liar. Apakah bendera perjuangan itu kini telah dilipat dengan rapi, lalu disimpan rapat-rapat di bawah meja kekuasaan? Apakah idealisme yang dulu membakar kini telah berkompromi dengan kenyamanan kursi-kursi birokrasi ?
Namun, di sisi lain,masih ada sedikit ruang untuk optimisme. Mungkin saja, bendera itu tidak sedang dilipat dalam ketundukan. Mungkin, mereka sedang merumuskan sebuah langkah besar yang lebih konkret, lebih sistematis, dan lebih berdampak daripada sekadar aksi di jalanan.
Terlebih lagi bendera tersebut dinilai sebagai salah satu atribut sebagai simbol representatif sebuah perjuangan.
Mengingat seperti yang disampaikan oleh pahlawan nasional yakni Panglima Besar Jendral Sudirman yang menjulukinya sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia”.
Jika elemen perjuangan yang sempat dibenci penguasa karena keberaniannya itu masih memiliki urat nadi idealisme, hari inilah momentumnya untuk membuktikan diri.
Jalanan telah memanggil, dan sejarah sedang mencatat: apakah mereka akan tetap memilih menjadi bagian dari keheningan kekuasaan, atau kembali berdiri tegak menjadi benteng terakhir bagi hak-hak rakyat yang terhimpit.
