Axelerasi.id – Kondisi Negara dan Politik yang Tidak Stabil, Bagaimana Peran Mahasiswa Hari Ini?
Ketika negara dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari penetapan mantan Kapolri beserta tiga petinggi kepolisian sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penyadapan terhadap pejabat negara, polemik keabsahan dokumen ijazah Wakil Presiden yang dipersoalkan hingga adanya putusan Mahkamah Agung, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang, hingga maraknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, muncul sebuah pertanyaan penting: bagaimana kita menjalankan peran sebagai mahasiswa di tengah situasi seperti ini?
Apakah kita masih menjadi kekuatan moral yang berani berdiri di hadapan kekuasaan, atau justru mulai kehilangan keberanian untuk mempertanyakan arah perjalanan bangsa?
Di tengah kondisi negara yang penuh persoalan, mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi kelompok yang menyaksikan keadaan dari kejauhan. Kita memiliki tanggung jawab historis dalam perjalanan panjang bangsa ini. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa pernah menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan sosial dan politik di Indonesia. Gerakan mahasiswa 1966, perjuangan mahasiswa 1998, hingga berbagai gerakan reformasi setelahnya menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengoreksi kekuasaan dan memperjuangkan perubahan.
Sayangnya, peran dan semangat kritis mahasiswa hari ini patut dipertanyakan. Tidak sedikit mahasiswa yang mulai kehilangan kepedulian terhadap persoalan sosial dan politik. Hanya sebagian yang masih konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat dan menyuarakan persoalan-persoalan publik. Kondisi ini dapat kita lihat dari berbagai aksi demonstrasi, baik di tingkat nasional maupun daerah. Di tengah jumlah mahasiswa Indonesia yang mencapai puluhan juta, keterlibatan dalam gerakan sosial dan perjuangan menyuarakan kepentingan rakyat masih belum mencerminkan besarnya potensi mahasiswa sebagai kekuatan perubahan.
Mahasiswa hari ini masih banyak yang terjebak dalam sikap apatis, terlalu berorientasi pada kepentingan pribadi, nyaman dengan rutinitas akademik, dan cenderung tidak peduli terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat luas. Tentu saja, kondisi ini menjadi persoalan serius bagi dunia kemahasiswaan. Sebab, mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change (agen perubahan), moral force (kekuatan moral), dan social control (kontrol sosial). Ketiga predikat tersebut bukan sekadar gelar yang dibanggakan dalam forum diskusi, kegiatan organisasi, atau pidato-pidato seremonial. Lebih dari itu, ketiganya merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Oleh karena itu, peran mahasiswa hari ini menjadi semakin penting. Mahasiswa harus kembali membangun dan menghidupkan tradisi intelektual. Kampus seharusnya menjadi ruang tumbuhnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik dan memperoleh gelar sarjana. Diskusi, penelitian, membaca, menulis, serta mengkaji kebijakan publik harus kembali menjadi bagian dari budaya gerakan mahasiswa.
Selain itu, mahasiswa juga harus hadir di tengah masyarakat. Gerakan mahasiswa tidak boleh hanya hidup di lingkungan kampus atau terbatas pada ruang-ruang organisasi. Persoalan pendidikan, kemiskinan, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga ketidakadilan hukum merupakan persoalan nyata yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan mahasiswa.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk menyuarakan kebenaran melalui berbagai saluran, termasuk pers mahasiswa. Sebab, perjuangan tidak hanya dilakukan melalui mimbar demonstrasi, tetapi juga melalui tulisan, pemberitaan, kritik, dan penyebaran informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pers mahasiswa harus tetap menjadi ruang kebebasan berpikir sekaligus alat kontrol sosial yang berani mengungkap persoalan dan menyampaikan suara masyarakat.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa mahasiswa bukanlah penyelamat bangsa yang dapat bekerja sendirian. Perubahan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Namun, mahasiswa memiliki keistimewaan berupa ruang intelektual, kebebasan berpikir, serta tanggung jawab moral untuk mengingatkan para pemangku kebijakan ketika mereka mulai menjauh dari kepentingan rakyat.
Sebab, mahasiswa tidak dilahirkan hanya untuk menjadi penonton dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Mahasiswa harus menjadi bagian dari mereka yang berani mengambil sikap, menyuarakan kebenaran, dan ikut menentukan ke mana arah sejarah bangsa akan berjalan.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Pers Mahasiswa!
Raka Waya Digantha
Pemimpin Umum LPM Republica FISIP Unila






