Axelerasi.id – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa begitu kuat di Pekon Serungkuk, Kabupaten Lampung Barat, pada Senin (23/3/2026).
Pesta Sekura perdana yang digelar masyarakat setempat berlangsung meriah sekaligus menyentuh, karena bukan sekadar pesta budaya, tetapi juga momentum kebersamaan warga yang sudah lama dinantikan.
Sejak pagi, jalanan menuju Pekon Serungkuk sudah dipenuhi warga. Meski lokasi pekon ini harus ditempuh melalui tanjakan dan turunan yang cukup terjal, antusiasme masyarakat tidak surut.
Dari anak-anak hingga orang tua, semuanya datang dengan semangat yang sama, ingin menyaksikan sekaligus merasakan kemeriahan Pesta Sekura pertama di desa tersebut.
Warga yang datang pun disambut dengan suasana yang ramah dan akrab.
Masyarakat Serungkuk memang dikenal dengan keramahan mereka. Tak sedikit pengunjung yang mengaku datang karena ingin merasakan langsung nuansa kebersamaan di desa ini.
Di tengah keramaian, puluhan warga tampak mengenakan topeng Sekura.
Sebagian memakai Sekura Kamak, yakni topeng yang terbuat dari kayu dengan bentuk unik dan ekspresi yang khas.
Sebagian lainnya mengenakan Sekura Betik, lengkap dengan kain panjang yang menjuntai, menciptakan suasana tradisi yang terasa sangat hidup.
Anak-anak pun ikut meramaikan suasana. Panitia menyediakan lima batang pinang untuk lomba panjat pinang, termasuk khusus untuk anak-anak.
Sorak sorai terdengar setiap kali peserta mencoba menari di atas panggung, membuat suasana semakin semarak dan penuh tawa.
Yang paling terasa justru kekompakan warga. Sejak persiapan hingga acara selesai, para pemuda dan pemudi terlihat bekerja bersama.
Bahkan setelah keramaian usai, para bujang dan gadis desa masih terlihat membersihkan sampah di halaman rumah yang menjadi pusat kegiatan.
Pemandangan sederhana itu justru menjadi gambaran kuat tentang kebersamaan masyarakat Serungkuk.
Tradisi Sekura yang Sarat Makna
Topeng Sekura sendiri merupakan budaya asli masyarakat Lampung Barat yang diwariskan secara turun-temurun. Kata “sekura” berasal dari kata sekukha dalam bahasa Lampung yang berarti penutup muka.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, tradisi Sekura sudah ada sejak masa penyebaran Islam di wilayah Lampung Barat.
Dahulu, topeng digunakan untuk menyembunyikan identitas ketika terjadi konflik pada masa itu.
Seiring waktu, topeng tersebut justru menjadi simbol budaya yang diwariskan hingga sekarang.
Kini, tradisi Sekura rutin digelar setiap awal bulan Syawal, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri.
Selain menjadi upaya melestarikan budaya, momen ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat.
Pesta Sekura perdana di Pekon Serungkuk pun menjadi bukti bahwa tradisi lama masih hidup dan tetap dicintai.
Bukan hanya tentang topeng atau pesta, tetapi tentang kebersamaan, keramahan, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.












