Di Serungkuk, Sekura Hujung Curhat Jalan Rusak Lewat Lagu Remix

Lampung443 views

Axelerasi.id – Aksi tak biasa terjadi dalam gelaran pesta Sekura di Pekon Serungkuk, Kecamatan Belalau, pada Senin, 23 Maret 2026.

Sejumlah peserta Sekura asal Pekon Hujung menyampaikan protes terkait kondisi infrastruktur jalan di daerahnya melalui pertunjukan di atas panggung.

Peristiwa itu bermula saat rombongan Sekura dari Pekon Hujung tampil menghibur pengunjung.

Alih-alih membawakan lagu seperti biasa, mereka mengubah lirik lagu berirama remix menjadi sindiran yang menyoroti kondisi jalan di kampung mereka.

Aksi tersebut sontak menarik perhatian dan membuat para pengunjung terkejut.

Pasalnya, pesan yang disampaikan cukup lugas dan berbeda dari penampilan Sekura pada umumnya yang identik dengan hiburan dan nuansa kegembiraan.

Salah satu peserta Sekura topeng asal Pekon Hujung mengungkapkan, perubahan lirik lagu tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kondisi jalan yang dinilai memprihatinkan.

“Di tahun 2026 ini, Pekon Hujung tidak menggelar pesta Sekura. Selain karena belum adanya kesepakatan antar tokoh masyarakat, kami juga ingin menyampaikan kondisi jalan di dalam pekon yang seperti kubangan dan sulit dilintasi kendaraan roda empat,” ujar Tamong bukan nama sebenarnya saat diwawancarai.

Tamong menambahkan, protes tersebut sengaja disampaikan melalui panggung Sekura agar mendapat perhatian lebih luas, mengingat acara tersebut dihadiri banyak masyarakat dari berbagai pekon.

Adapun lirik yang mereka nyanyikan berbunyi, “dihujung mawat pesta, mana khelaya jahal”, yang dalam arti bebas dimaknai sebagai “di Hujung tidak ada pesta karena jalan jelek”.

Pesta Sekura sendiri merupakan tradisi budaya masyarakat Lampung Barat yang rutin digelar setiap perayaan Idulfitri.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi seni dan budaya masyarakat setempat.

Aksi protes yang disampaikan Sekura Pekon Hujung ini pun menjadi sorotan dalam perhelatan tersebut.

Sejumlah pengunjung menilai, selain menghibur, Sekura juga bisa menjadi media penyampaian aspirasi masyarakat secara kreatif dan damai.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan kondisi jalan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Namun, harapan masyarakat agar adanya perhatian dan perbaikan infrastruktur di Pekon Hujung kini semakin mengemuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *