Axelerasi.Id – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Negeri Besar, Kabupaten Way Kanan, mendapat sorotan tajam dari masyarakat.
Kualitas menu yang disajikan pada hari ke-13 Ramadan dinilai tidak mencerminkan standar gizi seimbang dan memicu pertanyaan terkait transparansi anggaran.
Keluhan tersebut muncul setelah sejumlah paket makanan yang didistribusikan oleh dapur SPPG Negeri Besar berisi menu yang dianggap kurang layak untuk anak-anak, terlebih di bulan suci Ramadan.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut sajian yang diterima siswa tidak sesuai dengan tujuan utama program kesehatan.
“Menu ini jelas tidak layak disebut bergizi. Masak isinya hanya gorengan, wajik, dan satu buah salak yang setengah busuk? Ini lebih mirip makanan ringan daripada menu bergizi,” ujarnya,Minggu (15/03/2026)
Ia juga menyoroti aspek anggaran yang dialokasikan pemerintah pusat.
“Katanya anggaran untuk menu kecil itu Rp8.000 per porsi, tapi kenyataan di lapangan sangat sederhana. Ini patut dipertanyakan efektivitasnya,” tambahnya.
Menanggapi kritik tersebut, Kepala SPPG Negeri Besar, Irham , memberikan klarifikasi.
Ia membenarkan adanya laporan mengenai buah salak yang busuk, namun menegaskan bahwa hal tersebut sudah langsung ditangani.
“Kami sudah menerima laporan tersebut. Pada hari itu menunya adalah ketan abon, sosis telur, dan salak. Terkait salak busuk, itu di luar kendali kami karena rusaknya di bagian dalam. Namun, bagi siswa yang mendapatkannya, sudah kami ganti dengan yang baru hari itu juga,” jelas Irham.
Irham membantah jika menu tersebut tidak bergizi. Menurutnya, setiap paket yang didistribusikan sudah melalui perhitungan nilai gizi yang matang.
“Menu yang kami distribusikan adalah menu silang yang sudah diperhitungkan gizinya. Dari segi HPP (Harga Pokok Penjualan) dan kelayakan, menurut kami sudah masuk standar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Irham menjelaskan bahwa selama Ramadan, pihaknya rutin berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
“Kami selalu mengirimkan foto menu beserta rincian gizi dan harganya ke grup koordinasi yang di dalamnya ada Kepala Sekolah, Babinsa, Polsek, hingga pihak Kecamatan,” katanya.
Di akhir penjelasannya, Irham mengimbau kepada seluruh penerima manfaat agar tidak ragu melapor jika menemukan ketidaksesuaian di lapangan. “Jika ada kekurangan, segera lapor ke pihak sekolah agar bisa segera kami tindak lanjuti,” tutupnya.











