Axelerasi.id, Bandar Lampung – Kementerian Pertanian mencatat tren positif sektor pangan di Provinsi Lampung pada awal 2026.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras periode Januari–Mei 2026 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi, Tin Latifah, menyebut kenaikan produksi tak lepas dari meluasnya areal tanam yang direalisasikan petani.
Pada Maret 2026, luas tanam tercatat mencapai 37.345 hektare lebih tinggi dibandingkan Maret 2025.
“Capaian ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Ini menjadi prestasi bagi Lampung,” kata Tin saat ditemui di Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Senin, 6 April 2026.
Menurut dia, lonjakan luas tanam tersebut ditopang berbagai intervensi pemerintah pusat. Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pompa air, irigasi perpompaan, hingga program optimasi lahan dan distribusi benih menjadi faktor utama pendorong.
“Intervensi pemerintah cukup masif, terutama untuk optimasi lahan dan dukungan alsintan,” ujarnya.
Berkat capaian itu, Lampung kini masuk dalam enam besar daerah penyokong pangan nasional. Untuk 2026, produksi ditargetkan mencapai 3,7 juta ton.
Data BPS menunjukkan produksi beras Lampung periode Januari-Mei 2025 sebesar 952 ribu ton. Pada periode yang sama tahun ini, produksi naik menjadi 998 ribu ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 45 ribu ton.
“Secara angka, kenaikannya signifikan. Ada surplus sekitar 45.794 ton dibandingkan tahun lalu,” kata Tin.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah pusat, daerah, dan petani.
Menurut dia, pemerintah daerah berfokus memastikan seluruh intervensi dari pusat benar-benar tepat sasaran di lapangan, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan keberlanjutan musim tanam.
“Pemerintah provinsi memastikan distribusi bantuan berjalan efektif, termasuk alsintan, benih, dan dukungan irigasi. Fokus kami menjaga kesinambungan produksi agar tidak hanya meningkat, tetapi juga stabil,” ujar Elvira.
Ia menambahkan, penguatan koordinasi lintas sektor terus dilakukan, termasuk dengan penyuluh pertanian dan pemerintah kabupaten/kota, agar target luas tambah tanam (LTT) dapat tercapai secara optimal.
Di balik capaian tersebut, pemerintah mulai mewaspadai ancaman kekeringan akibat siklus El Nino. Kondisi ini diperkirakan akan memengaruhi ketersediaan air di lahan pertanian dalam beberapa bulan ke depan.
Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penyediaan pompa air, pembangunan sumur dalam, irigasi perpompaan, hingga embung.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas provinsi, kabupaten, BBWS, serta penyuluh untuk mengantisipasi kekeringan,” ujar Tin.
Elvira menegaskan, pemerintah daerah juga telah memetakan wilayah rawan kekeringan sebagai langkah antisipasi dini.
“Kami sudah identifikasi daerah-daerah yang berpotensi terdampak kekeringan. Intervensi akan diprioritaskan di wilayah tersebut agar produksi tidak terganggu,” katanya.
Selain itu, percepatan masa tanam juga terus didorong selama curah hujan masih tersedia. Petani diminta segera mengusulkan kebutuhan bantuan, termasuk kemungkinan penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Untuk memperkuat ketahanan pangan, Kementerian Pertanian juga menyiapkan program cetak sawah baru seluas 1.480 hektare di Lampung, berdasarkan hasil Survei Investigasi Desain (SID).
Pengawalan program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga ahli kementerian dan jajaran TNI. Koordinasi dilakukan untuk memastikan realisasi luas tambah tanam (LTT) berjalan sesuai target.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga momentum produksi sekaligus menopang ambisi swasembada pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.








