10 Tahun Terabaikan, Pemuda dan Masyarakat Gerak Perbaiki Jalan Kaliawi – Kaliawi Indah

Lampung, Nasional63 views

Axelerasi.Id – Terhitung sudah satu dekade sejak tahun 2016, ruas jalan Kaliawi – Kaliawi Indah di Kecamatan Negeri Besar, Kabupaten Way Kanan, nyaris tak tersentuh perbaikan.

Kondisi kerusakan jalan yang parah kerap menyulitkan mobilitas warga, terutama warga yang tinggal di sekitar empat desa, yakni Desa Kaliawi, Negeri Besar, Tiuh Baru, dan Kiling-Kiling.

Pasalnya, ruas jalan yang diketahui merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Way Kanan itu merupakan akses utama warga yang tinggal di empat desa tersebut.

Kondisi ini sebenarnya sudah berkali-kali viral di media sosial. Namun meski menjadi sorotan publik, tindakan nyata dari pemerintah daerah tak kunjung datang.

Kejenuhan masyarakat akhirnya memunculkan langkah konkret, pemuda dan warga pun akhirnya bergotong royong memperbaiki jalan secara swadaya.

Langkah ini membuktikan bahwa inisiatif masyarakat bisa menjadi motor perubahan ketika birokrasi lamban.

Ketua pelaksana kegiatan, Hendri menegaskan, bahwa gerakan ini lahir dari frustasi warga atas lambatnya respons pemerintah.

“Kami tidak bisa terus menunggu. Kondisi jalan sudah sering viral, aspirasi sudah berkali-kali disampaikan, tapi tindakan nyata tak kunjung datang. Mobilitas warga terhambat, dan itu memengaruhi kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Kegiatan yang awalnya direncanakan sederhana ini berkembang pesat. Puluhan pemuda dan masyarakat Buay Pemuka Bangsa Raja bekerja bersama, mulai dari pengangkutan batu hingga perataan permukaan jalan.

Semangat gotong royong ini pun turut menegaskan, bahwa gerakan masyarakat bisa menciptakan dampak besar bahkan ketika birokrasi belum hadir.

Hendri menyebutnya sebagai bukti nyata bahwa kekuatan kolektif dapat menutupi kekosongan tanggung jawab pemerintah.

Di akhir Hendri menegaskan, bahwa setelah jalan diperbaiki, seluruh warga harus memiliki rasa kepemilikan dan menjaga akses yang telah dibangun.

“Kolaborasi ini baru awalnya. Tugas kita berikutnya adalah memastikan jalan tetap terawat agar manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang, demi kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial semua warga,” tutup Hendri.

Gerakan ini pun menarik perhatian legislatif. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Deni Ribowo, yang turut meninjau langsung lokasi perbaikan.

Pada kesempatan itu, Deni memuji keberanian pemuda yang mampu menjalin komunikasi efektif dengan sektor swasta demi kepentingan publik.

“Kolaborasi antara masyarakat dan dunia usaha adalah solusi nyata di tengah keterbatasan anggaran pemerintah,” ujar Deni.

Ia pun secara khusus, menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi nyata dari PT BMM sebagai perwakilan dunia usaha yang tanggap terhadap isu sosial di lingkungan operasionalnya.

“PT.BMM ini Luar biasa, saya bisa tunjuk perusahaan-perusahan di Way Kanan yang punya partisipasi terhadap masyarakat dan PT.BMM memilik komitmen yang jelas untuk mendukung program pembangunan seperti memperbaiki jalan,swasembada pangan,hasil bumi bisa di lewati disini,” ucap Deni.

“Ini adalah contoh kolaborasi yang sehat, di mana dunia usaha hadir sebagai mitra pembangunan bagi masyarakat,” tambahnya

Sementara itu, General Manager PT BMM, M. Alfian HS menyatakan, komitmen perusahaan untuk mendukung inisiatif warga dan memastikan akses jalan lebih layak.

“Hari ini, enam unit mobil pengangkut batu sudah tiba dari total sepuluh yang direncanakan. Kami akan mengawal proses ini sampai jalan bisa dilalui dengan aman,” katanya.

“Keterlibatan sektor swasta adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” jelas Alfian.

Gerakan mandiri ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi juga kritik terselubung terhadap lambannya pemerintah dalam menangani infrastruktur vital.

Hampir 10 tahun jalan rusak parah membuktikan bahwa tanpa partisipasi aktif masyarakat dan sektor swasta, kebutuhan dasar seperti akses jalan bisa tetap terabaikan.

Inisiatif warga Negeri Besar menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi dan kesadaran kolektif mampu mengatasi kekosongan tanggung jawab publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *