Axelerasi.id – Maraknya kasus HIV yang terjadi di Provinsi Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung, memicu perhatian DPRD Provinsi Lampung. Persoalan ini dinilai bukan hanya menyangkut aspek kesehatan, tetapi juga sosial, edukasi, serta perlindungan terhadap penyintas agar tidak terjadi stigma di tengah masyarakat.
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Muhamad Junaidi, menyampaikan bahwa persoalan tersebut harus menjadi peringatan bersama. Ia menyebut, rata-rata kasus HIV berkaitan dengan perilaku seksual berisiko seperti ganti-ganti pasangan dan perilaku seksual yang tidak sehat.
“Oleh karena itu, ini adalah sebuah peringatan bagi seluruh masyarakat, bagi orang tua, dan tak terkecuali pemerintah. Saya berharap dengan adanya kondisi seperti ini, pemerintah dapat bergerak cepat,” ujar Junaidi, Selasa (24/2).
Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mengidentifikasi akar masalah yang terjadi. Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi pengucilan terhadap penyintas HIV di tengah masyarakat.
“Jangan sampai penyintas mendapatkan pengucilan. Bagaimanapun juga, mereka adalah bagian dari masyarakat yang harus diberikan perlindungan, pendampingan, dan edukasi. Jangan sampai ada trauma mendalam bagi mereka maupun keluarganya,” jelasnya.
Selain itu, Junaidi mendorong pemerintah untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar kasus serupa tidak terus berulang.
“Pemerintah perlu melakukan edukasi secara masif kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak terjadi masalah yang sama ke depannya,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan edukasi, tetapi juga perlu diiringi langkah deteksi dini.
“Kalau memungkinkan, perlu dilakukan pemeriksaan di sekolah atau kampus untuk mengetahui sejauh mana penyebarannya. Jangan sampai ini seperti bola salju yang terus membesar dan menjadi persoalan serius,” tegasnya.
Sementara itu, anggota DPRD dari daerah pemilihan Kota Bandar Lampung, Ade Utami Ibnu, mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Ia berharap kasus yang terungkap saat ini bukan sekadar fenomena puncak gunung es.
“Saya sangat prihatin. Mudah-mudahan ini bukan hanya fenomena puncak gunung es, karena yang terungkap baru berdasarkan hasil tes. Bisa saja masih ada yang belum terdeteksi,” ujar Ade.
Menurutnya, persoalan ini perlu ditangani hingga ke akar, termasuk memperhatikan faktor pergaulan dan perilaku berisiko yang berdampak pada kesehatan serta ketertiban sosial.
“Ini harus menjadi perhatian bersama. Bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga pihak kesehatan dan instansi terkait harus lebih waspada dan responsif dalam menangani persoalan ini,” tutupnya.












