Axelerasi.Id – Masyarakat Lampung setiap tahun diperkirakan menanggung kerugian ekonomi hingga Rp300–400 miliar akibat disparitas harga gabah dan beras.
Kerugian ini dipicu belum optimalnya hilirisasi pertanian di tingkat desa, sehingga petani menjual gabah ke luar daerah, lalu kembali membeli beras dengan harga yang jauh lebih mahal.
Untuk menekan kebocoran ekonomi tersebut, pemerintah daerah mendorong percepatan hilirisasi pertanian melalui penguatan fasilitas pengering padi (dryer), penggilingan beras, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta pemanfaatan program Desa Digital.
Upaya ini diarahkan agar nilai tambah hasil pertanian dapat dinikmati langsung oleh petani dan masyarakat di daerah.
Pembangunan ratusan unit mesin pengering padi di desa-desa sentra produksi dinilai krusial untuk menjaga kualitas gabah sekaligus menstabilkan harga saat panen raya. Selain itu, produksi beras kemasan lokal juga terus didorong agar rantai distribusi lebih pendek dan tidak lagi merugikan petani maupun konsumen.










