Penduduk dan Kendaraan Terus Bertambah, Dishub Ungkap Akar Kemacetan Bandar Lampung

72 views
Dok : Axelerasi.id / Bambang Sumbogo / Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung | Efrin

Axelerasi.Id – BANDAR LAMPUNG — Kemacetan lalu lintas menjadi persoalan yang kian terasa di sejumlah ruas jalan Kota Bandar Lampung, terutama pada jam sibuk pagi, dan sore hari.

Meningkatnya jumlah penduduk dan kendaraan pribadi disebut menjadi salah satu faktor yang membuat kepadatan lalu lintas semakin tinggi.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo, mengatakan kepadatan kendaraan saat peak hour terjadi di sejumlah titik, di antaranya kawasan Rajabasa, MBK, hingga jalur bypass menuju Islamic Center dan Al-Kausar.

“Bandar Lampung memang saat ini jam peak hour, pagi,sore, terasa pada titik-titik tertentu itu kemacetan sangat padat. Di daerah Rajabasa, kemudian MBK, kemacetannya luar biasa,” ujarnya (21/09/26)

Kondisi tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat yang tinggal di Kota Bandar Lampung, tetapi juga dipengaruhi tingginya mobilitas kendaraan yang keluar-masuk wilayah perkotaan.

Menurut Bambang, pertumbuhan penduduk turut beriringan dengan peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Ia menyebut jumlah penduduk Bandar Lampung telah mencapai sekitar 1,4 juta jiwa.

“Sekarang jumlah penduduk Kota Bandar Lampung ini kan sudah cukup masuk kota besar, 1,4 juta. Nah, ini tentunya kan juga seiring dengan itu banyaknya tumbuh kendaraan pribadi,” katanya.

Bambang menjelaskan salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, yang digunakan masyarakat untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Selain itu, kondisi tersebut berkaitan dengan belum optimalnya sistem transportasi massal. Masyarakat cenderung memilih kendaraan pribadi karena dinilai lebih praktis dan mampu mengantarkan penumpang langsung dari rumah menuju lokasi tujuan.

“Karakteristik Bandar Lampung kan, wilayahnya nggak luas. Sementara orang ingin melakukan perjalanan itu dengan kendaraan pribadi seperti sepeda motor yang itu bisa door to door,” jelasnya.

Ia mengatakan, keterbatasan angkutan umum juga membuat masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi. Akses menuju angkutan umum yang tidak selalu dekat dengan tempat tinggal menjadi salah satu pertimbangannya.

“Karena dia dari rumah mau ke tempat angkutan umum saja biasanya kan jauh. Apalagi sekarang angkutan umum minim,” katanya.

Padahal, Bandar Lampung sebelumnya memiliki sejumlah moda transportasi umum, mulai dari angkutan kota hingga bus Damri dan Bus Rapid Transit (BRT).

Namun, perkembangan transportasi umum dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

Selain kawasan Rajabasa dan MBK, Bambang menyebut jalur bypass menuju Islamic Center dan Al-Kausar sebagai salah satu kawasan yang juga mengalami kepadatan.

Persoalan tersebut semakin kompleks karena pertumbuhan kendaraan harus berhadapan dengan kapasitas jaringan jalan yang terbatas.

“Kemudian dengan ketersediaan infrastruktur jalan yang memang dari dulu nggak berkembang-kembang. Jadi hanya seperti itu-itu terus,” ujar Bambang.

Sejumlah koridor utama seperti koridor tengah, koridor utara, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Antasari hingga kawasan Palapa menjadi bagian dari jaringan jalan yang menopang pergerakan masyarakat di Bandar Lampung.

Bambang mengatakan pengendalian kemacetan tidak cukup hanya dilakukan melalui pengaturan arus lalu lintas. Pemerintah juga perlu mendorong penyediaan transportasi umum dan angkutan massal yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat.

“Artinya apa? Artinya ya memang bagaimana kita menyediakan fasilitas angkutan umum, angkutan massal. Ini yang mungkin akan kita gulirkan pelan-pelan,” ungkapnya.

Dishub Provinsi Lampung juga akan memadukan sejumlah data untuk memetakan persoalan lalu lintas secara lebih menyeluruh. Data tersebut meliputi jumlah kendaraan, volume lalu lintas harian atau LHR, jumlah penduduk, hingga ketersediaan infrastruktur jalan.

Bambang mengatakan data tersebut diperlukan untuk melihat beban lalu lintas secara lebih terukur sekaligus menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan pengembangan transportasi di Bandar Lampung.

Dengan demikian, persoalan kemacetan di Bandar Lampung tidak hanya berkaitan dengan tingginya jumlah kendaraan pada jam sibuk, tetapi juga menyangkut pertumbuhan penduduk, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, keterbatasan transportasi umum, serta kapasitas infrastruktur jalan yang perlu disesuaikan dengan perkembangan kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *