Axelerasi.Id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional hingga ke tingkat desa.
Ketua Umum Seknas Indonesia Maju, Monisyah, menyebut selama sekitar 11 bulan pelaksanaan, program MBG telah mendorong terbentuknya rantai pasok pangan dalam negeri yang melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal.
Menurutnya, skema MBG menghadirkan sistem distribusi pangan berkualitas dengan harga terjangkau, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat karena kebutuhan bahan pangan dipasok secara berkelanjutan.
Ia menilai program yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus menjamin kecukupan gizi anak-anak Indonesia.
“MBG bukan sekadar program bantuan makanan, tetapi bagian dari upaya membangun generasi bangsa melalui fondasi gizi dan pangan yang kuat,” kata Monisyah dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia juga menanggapi sejumlah dinamika di lapangan, termasuk laporan terkait paparan bakteri dalam distribusi makanan. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari proses evaluasi program berskala nasional yang masih terus disempurnakan.
Monisyah menegaskan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional akan terus melakukan perbaikan agar pelaksanaan program berjalan semakin baik ke depan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan jumlah penerima manfaat MBG kini telah menembus lebih dari 60 juta orang. Ia mengibaratkan capaian tersebut setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan setiap hari.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan peresmian dan peletakan batu pertama 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta peresmian 18 gudang ketahanan pangan Polri di Palmerah, Jakarta.
Pemerintah, lanjutnya, juga telah membangun sekitar 23.000 unit SPPG yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Prabowo menekankan MBG merupakan bagian dari strategi besar peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Meski sempat menuai kritik di awal pelaksanaan, ia menilai peningkatan jumlah penerima manfaat menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjalankan program tersebut secara berkelanjutan.






